Kamis, 24 Maret 2011

Akumulasi Waktu Kebajikan

Alun-alun Tahrir di Kairo tiba-tiba jadi saksi sejarah dari ledakan kemarahan para pemuda Mesir. Jutaan jiwa muda itu tumpah ruah dengan satu target: Mubarak harus turun! Dan Mubarak pun akhirnya memang turun. Di lapangan yang sama -sepekan setelah kejatuhan Mubarak- para pemuda mendengar khutbah Jumat dari seorang ulama Mesir yang pernah diusir oleh rezim Mesir puluhan tahun lalu: Syekh Yusuf Al Qardhawi.

Itu dua wajah sejarah dari dua orang pelaku yang tumbuh dan hidup dalam waktu yang sama. Yang satu mengakumulasi tirani. Yang satu mengakumulasi dakwah. Tapi keduanya menggunakan waktu yang lama. Lama sekali dalam hitungan umur individu. Akumulasi tirani itulah yang meledakkan pemuda Mesir di lapangan Tahrir, Kairo. Akumulasi dakwah juga yang menghadirkan Qardhawi kembali ke lapangan itu setelah pengusiran yang lama.

Sejarah adalah akumulasi yang meledak. Akumulasi kebajikan akan meledak jadi peradaban. Akumulasi tirani akan meledak jadi revolusi. Tidak ada pelaku sejarah yang bisa meninggalkan jejak kalau hanya numpang lewat dalam hidup. Itu sebabnya perubahan-perubahan besar tidak akan pernah berlangsung dalam tempo yang singkat. Itu sebabnya sejarah menghapus banyak nama para pelaku karena mereka gagal mengakumulasi kebajikan mereka dalam rentang waktu yang lama.

Dalam makna akumulasi itulah Al-Qur’an memperkenalkan tiga besaran waktu yang berbeda. Satuan terkecilnya adalah waktu individu. Akumulasi dari waktu individu akan membentuk waktu sosial. Selanjutnya akumulasi waktu sosial akan membentuk waktu peradaban atau sejarah. Yang kita baca dari sejarah umumnya adalah akumulasi waktu individu yang berhasil membentuk waktu sosial dan peradaban dari sebuah komunitas.

Maka sejarahh sosial atau peradaban merupakan akumulasi dari sejarah individu-individunya. Tapi tak pernah ada sejarah individu yang bisa kita lepaskan dari konteks sosial dan peradabannya. Akumulasi kebajikan individu hanya akan meledak jika sejak awal ia terangkai dalam keseluruhan waktu sosial. Mubarak dan Qardhawi adalah dua individu yang bergulat dalam waktu sosial yang sama, dan akhirnya meledak pada waktu yang sama, yaitu waktu sosial masyarakat Mesir. Hasil bagi individu berbeda. Tapi keduanya melukis kanvas waktu masyarakat Mesir. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 247]

Rabu, 26 Januari 2011

Banyak Jalan Kebaikan

Dari Abu Zar pula, bahwasanya orang-orang sama berkata: "Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya raya sama pergi dengan membawa pahala yang banyak -karena banyak pula amalannya. Mereka itu bershalat sebagaimana kita juga bershalat, mereka berpuasa sebagaimana kita juga berpuasa, tambahan lagi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan untukmu semua sesuatu yang dapat engkau semua gunakan sebagai sedekah. Sesungguhnya dalam setiap tasbih adalah merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, memerintahkan kebaikan juga sedekah, melarang kemungkaran itupun sedekah pula dan bahkan dalam bersetubuhnya seorang dari engkau semua itupun sedekah." Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah apakah seorang dari kita yang mendatangi syahwatnya itu juga memperoleh pahala?" Beliau s.a.w. bersabda: "Adakah engkau semua mengerti, bagaimana jikalau syahwat itu diletakkannya dalam sesuatu yang haram, adakah orang itu memperoleh dosa? Maka demikian itu pulalah jikalau ia meletakkan syahwatnya itu dalam hal yang dihalalkan, iapun memperoleh pahala." (Riwayat Muslim) Ad-dutsuur, dengan tsa' yang bertitik tiga buah, artinya harta benda yang melimpah ruah, mufradnya berbunyi Ditsrun.

Keterangan:
Yang menghadap Nabi s.a.w. ini adalah dari golongan kaum Muhajirin (orang-orang yang sama berpindah mengikuti Nabi s.a.w. dari Makkah ke Madinah) yang fakir-fakir. Jadi pokoknya mereka mengadu karena merasa kurang pahalanya kalau dibanding dengan orang-orang yang kaya-kaya itu, sebab merasa tidak dapat bersedekah karena miskinnya. Setashbih, yakni sekali membaca tasbih (Subhanallah). Takbir yaitu membaca Allahu Akbar. Tahmid yakni bacaan Alhamdulillah dan Tahlil yaitu La ilaha illallah. Dalam kemaluan istripun ada sedekahnya yakni bersetubuh itupun ada pahalanya seperti pahala sedekah, sebagimana menyampaikan syahwat dalam keharaman yakni melacur atau berzina akan menimbulkan dosa.

Bersyukur dan Optimis

Bersyukur & optimis dapat memberi kegembiraan dalam jiwa, membuka cakrawala hati menjadi luas & membuka pintu-pintu kesuksesan juga menjadi motor menggerak kebahagiaan, kegembiraan & produktifitas. Bersyukur dalam hidup ini melahirkan sikap optimis, sikap optimis hanya akan muncul bila kita senantiasa bersyukur karena sikap optimis tertanam keyakinan datangnya kesembuhan ketika sakit, datangnya keberhasilan ketika gagal, datangnya menang ketika kalah, datangnya kebahagiaan ketika bersedih. Membuka pintu harapan, menenangkan hati terhadap rasa takut, menghimpun segala kekuatan & membangkitkan semangat memohon pertolongan & bertawakal kepada Allah. Setiap orang yang beriman yakin akan janji Allah bahwa. 'Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan' (QS. al-Insyiraah : 5-6).

Kemampuan mensyukuri nikmat Allah berarti kita menyakini tidak ada yang disebut dengan keberhasilan terlambat datang, tidak ada kebahagiaan yang bisa tertunda sehingga kita tidak perlu tergesa-gesa atau gelisah menghadapi masa sulit karena segala urusan didalam hidup kita ada didalam genggaman Allah yang mencipta & mengatur segala kehidupan di alam semesta ini. Allah tidak mentakdirkan sesuatu melainkan ada hikmah yang dikehendakiNya karena Allah Maha Bijak & Maha Mengetahui, maka tidak ada yang sia-sia di dalam hidup kita.

Banyak kebaikan yang melimpah ruah yang tersembunyi dibalik peristiwa menyedihkan yang tidak kita sukai, tanpa kita sadari dibalik peristiwa yang menurut kita pahit ternyata manis dikemudian hari. Menurut kita menyedihkan namun membahagiakan dilain waktu, sebagaimana Firman Allah yang berbunyi, 'Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahuinya.' (QS. al-Baqarah : 216).

Yuk, kita senantiasa bersyukur & optimis!

Read more: http://agussyafii.blogspot.com/#ixzz1C6gkJiMX

Selasa, 25 Januari 2011

Ucapkan salam mesra untuk pasangan

Satu kata lagi yang terkadang kita lupa adalah salam menjelang tidur bagi pasangan suami istri. Ucapkanlah kepada pasangan kita dengan ucapan, “Selamat malam sayang” setiap malam menjelang tidur atau menjelang pagi hari.



Dan akan lebih terasa berkesan jika ditambahkan dengan “kecupan” sayang kepada pasangan kita itu. Hal itu bisa dilakukan secara rutin setiap malam, apapun kondisi kita saat malam itu.



Hal itu juga akan mengingatkan pasangan kita, bahwa betapa pun kita sedang marah tetap saja kita ingin bersamanya. Artinya, apa yang pasangan berdua miliki lebih penting daripada kemarahan satu hari saja.

Membaca suasana hati pasangan kita

Bacalah suasana atau cuaca hati pasangan kita setiap saat. Dan usahakanlah untuk berbicara dengannya di sela-sela kesibukan yang menghampirinya (suami-istri). Dengan demikian kita bisa menyesuaikan diri dengan suasana hatinya setelah bertemu.



Tentu saja hal itu untuk menghindari konflik yang mungkin bisa saja terjadi. Memang, sakit hati, jengkel, dan kebutuhan-kebutuhan yang tak bisa kita penuhi, adalah hal-hal yang tak dapat dihindarkan dalam setiap hubungan dekat dengan pasangan.



Bahkan hal itu bisa saja terjadi sepulang dari berbulan madu. Atau hal-hal yang terjadi dalam keseharian kita dapat memunculkan kejengkelan-kejengkelan.



Yah, pernikahan memang pertemuan dua pribadi tak sempurna yang bertekad menjadi satu dalam kedekatan yang lebih baik dan permanen

Katakan Cinta pada sang Istri

Jangan ragu dan malu untuk mengatakan cinta pada pasangan kita (suami-istri). Ungkapkan saja, “Aku cinta padamu” atau bentuk-bentuk perhatian lainnya. Misalkan dengan mengatakan,”Baik-baik ya” pada saat pagi, siang, sore ataupun malam.



Hal itu merupakan cara “hebat” untuk mendapatkan kesabaran dan toleransi menghadapi dunia luar yang tak teratur dan semrawut. Apalagi banyak sekali hal-hal yang diluar jangkauan kita



Tapi selain itu, untuk menyakinkan pasangan bahwa kita mencintai dia, dan juga merupakan wujud perhatian dan kasih sayang kita pada pasangan. Dan pasangan kita memang berhak mendapatkan hal itu.

Rabu, 01 Desember 2010

Perkuat 4 Hal Untuk Kesuksesan Anak

1.Perkuat dan maksimalkan pola ibadah ( amal dan doa ) saat sebelum kelahiran sang buah hati

2.Perkuat pengetahuan tentang apa saja seputar anak ( pendidikan,kesehatan, dll )semasa sesudah lahir sampai usia 7 tahun

3.Perkuat interaksi dengan anak.

4.Perkuat sabar, terkadang doa dan harapan kita tidak sejalan. ambil sisi baik sebagai Ibroh (pelajaran)

Tukan Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

7.Langkah Pemakmuran Masjid

1. Konsolidasi Pengurus
2. Konsolidasi Jama'ah
3. Perumusan Program Kerja
4. Memperbaiki Mekanisme Kerja
5. Menumbuhkan Rasa Memiliki Terhadap Masjid
6. Melengkapi Fasilitas Masjid
7. Menggalang Pendanaan Masjid

Kamis, 04 November 2010

Narasi Muhammad

“Aku bisa berdoa kepada Alloh untuk menyembuhkan butamu danmengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan ini,kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana ?”Itu dialog Nabi Muhammad SAWdengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau dan meminta didoakan agar Alloh mengembalikan penglihatannya.Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yangbegitu mengharukan: “ Saya akan bersabar dan berdoalah agar Alloh tidak mengembalikan penglihatanku.”Beliau juga bisa menyembuhkan seperti Nabi Isa alaiahis salam, tapi beliau menawarkan pilihan lain: “Bersabar”.Sebab kesabaran adalah karakter inti yang memungkinkan kita survive dan bertahan melalui seluruh rintangan kehidupan. Kesabaran adalah karakter orang kuat.Sebaliknya, tidakada jaminan bahwa dengan bisa melihat, wanita itu akan bisa melakukan lebih banyak amal sholeh yang bisa mengantarnya ke surga. Tapi disini, kesabaran itu adalah jalan pintas ke surga. Selain itu, penglihatan adalah fasilitas yangkelak harus dipertanggungjawabkan di depan Alloh, karena fasilitas berbanding lurus dengan beban dan pertanggungjawaban. Ada manusia, kata Ibnu Taimiyah, lebih bisa lulus dalam ujian kesulitan yang alatnya adalah sabar ketimbang ujian kebaikan yang alatnya adalah syukur.Nabi Muhammad juga berperang seperti Nabi Musa. Bahkan malaikat Jibril pun pernah meminta beliau menyetujuiuntuk menghancurkan Thoif. Tapi beliau menolaknya. Sembari mengucurkan darah dari kakinya beliau malah berdoa: “ Sayaberharap semoga Alloh melahirkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Alloh.”Muhammad bisa menyembuhkan seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad punya dua jenis kekuatan itu: soft power dan hardpower.Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya. Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alatuntuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata,beliau memilih narasi. Karena itu mukjizatnya adalah kata: “Al Qur’an”. Karena itu sabdanya pun diatas semua kata yang mungkin diciptakan manusia.Itu karena narasi bisa menembus tembok penglihatan manusia menuju pusat eksistensi dan jantung kehidupannya:akal dan hatinya, jauh lebih dalam daripada apa yang mungkin dirasakan manusia tentang kaget terbelalak seketika menyaksikan laut terbelah atau saat menyaksikan orang buta melihat.
Ustadz Anis Matta, Lc ( Wakil Ketua DPR RI)