Jumat, 28 Mei 2010

Sabar Menanti

Melanggengkan sebuat kekuatan niat untuk tetap setia menunggu serta mendapatkan
pendamping hidup adalah jalan panjang yang patuh kita sikapi dengan keteguhan lahir
dan batin.
Cibir, candaan, bahkan airmata semua itu mengalir tanpa waktu,tempat yang terus mengisi ruang
kehidupan yang kita jalani. Untuk sebuah cita-cita mengenapkan separuh agama ini
sebagaimana sabda junjungan kita Nabi Muhammad SAW ;
"Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya;
oleh karena itu bertakwalah kepada Allah untuk separuh yang tersisa."
yah, sabda Beliaulah yang terus sampai saat ini menguatkan tekad untuk terus
mengenapkan arti sebuah penantian yang dibingkai dengan kesabaran.
Disisi lain, menanti penamping hidup yang shalihah dan sholeh itu juga
yang membuat hati, perasaan dan pikiran terus berkobar dan bercampur
dengan tetap dalam sebuah kata penantian.

Semangat doa dan tawakal harus terus terpatri didalam dada, karena Allah dan RasulNya
mengajarkan akan dua hal tersebut. Meringgis hati kita takkala doa dan tawakal
ini tak kunjung mampir di kita,.........sampai detik ini, Apakah Allah belum mendengar
dan mengabulkan doa dan tawakal ini. Ah...rasanya kita harus tersadar sesungguhnya
syaitan dengan berbagai jurus dan senjatanya terus mengerus dan mengerus kekuatan
lahir dan batin ini agar menjauh dalam titian rahmaMU.
Sekian lama penantian itu kini sudah mendekati sebuah kenyataan, Ya Allah Terima Kasih
ternyata Allah Maha Tahu......

* Dinda Lyu, semoga impianmu tercapai...

Selasa, 25 Mei 2010

Apa yang membuat anda tersenyum hari ini



Menulis inilah yang membuat saya tersenyum, karena senyum adalah ekspresi manusia dengan segala tingkah polanya, akan tetapi senyum yang terindah adalah senyum yang lahir dari hati yang memendam kasih sayang. senyuman itulah yang menjadikan orang tua semakin sayang kepada anak-anaknya, senyuman sahabat yang menjadikan indahnya persahabatan, senyuman para pemimpin menjadi rakyat senang........... yah senyuman membuat segala apapun menjadi indah, mantab.
Tak heran bila salah satu tembang nasyid dari negeri jiran "raihan" mengambil judul senyum :


Senyuman... senyuman
Senyum tanda mesra
Senyum tanda sayang
Senyumlah sedekah yang paling mudah
Senyum di waktu susah
Tanda ketabahan
Senyuman itu tanda keimanan
Senyumlah senyumlah senyumlah senyumlah

SubhanALLAH, bahkan Junjungan kita sendiri Muhammad SAW bersabda "Senyum di depan saudaramu adalah sedekah (Hadits) ". Bahkan pepatah cina juga mengatakan "Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum seharusnya tidak membuka toko ". Hai Sobat, tapi hati-hatilah jangan lupa membedakan antara senyum dan tertawa, karena jelas banget tuh bedanya kalo...tentunya sobat mudah lebih tahulah. Coba lihat deh mulai dari overa van java, bukan empat mata dan lain lain semuanya membuat orang tertawa bukan tersenyum. Kalau kita banyak tertawa hati kita nanti bisa-bisa gak inget neraka tuh. Apalagi udah kebanyakan deh alias overdosis bisa-bisa masuk rumah sakit deh, nah loh........

Bagaimana agar senyum itu bisa terlihat penuh dengan makna, mau tahu sobat ;
pertama, sobat harus ikhlas tuh, kenapa harus ikhlas?karena dengan kita ikhlas maka dalam kondisi apapun kita maka senyum yang kita berikan akan bernilai pahala.
yang kedua, senyuman apa adanya, artinya senyum yang kita buat jangan dibuat-buat.
sedangkan yang ketiga, tersenyumlah pada siapa anda tersenyum, artinya senyuman anda pada siapa anda berikan jangan anda tersenyum pada sahabat anda akan tetapi senyuman itu anda iringin dengan kepala menunduk.
Gimana mudahkan, semoga kita bisa tersenyum...salam senyum

Jumat, 21 Mei 2010

Tiga Prinsip Keutuhan Rumah Tangga

by : dendy
Keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat adalah suatu keinginan setiap pasutri dalam megarungi biduk rumah tangga. Namun persoalan-persoalan apapun yang ada bisa mengakibatkan keutuhan rumah tangga ini berakhir.
Faktor religulitas( agama ) seseorang lah sebenarnya yang amat berperan dalam mengikat kekokohkan dan keutuhan rumah tangga.
Jika membangun sebuah rumah tangga berangkat nilai-nilai ajaran Rasulullah, maka dalam perjalanannya pun harus dilandasi dengan aspek-aspek hak dan kewajiban dalam syariah Islam. Kemudian faktor komunikasi sesama pasangan yang tidak baik, tidak baiknya komunikasi banyak sekali penyebabnya antara lain; minimnya pengetahuan tentang pengelolahan komunikasi pasutri, managemen permasalahan dan solusi.
Faktor yang lain adalah kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Kalau kelebihan dan kekurangan ini bisa dikeloah dengan baik diantara pasutri, maka sesungguhnya akan melahirkan kombinasi yang saling melengkapi, saling mengingatkan, saling berbagi dan saling membantu.
Insya Allah apabila kita memiliki dan terus berupaya memperbaiki dan memperdalam agama, komunikasi ditingkatkan serta memenej segala kekurangan dan kelebihan maka keutuhan dan keharmonisan akan terus hadir di rumah tangga kita.
Wallahu a'lam

Kamis, 20 Mei 2010

Kerasnya Kehidupan dunia

Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).”
Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan pada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu (HR. Al-Bukhariy no.6416)
Hadits tersebut tidak asing ditelinga kita, suatu pelajaran yang sangat berarti seandainya saja kaum muslimin memahami esensi suatu kehidupan.

Diperjalanan kehidupan inilah seluruh anak adam mengalami berbagai fluktuasi kejadian-kejadian yang memungkinkan mereka pada jalan yang lurus atau yang menyimpang.
Dan Allah Azza wa Jalla mengingatkan kepada kita semua dalam firmanNYA;

Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat. (QS. Al Insaan, 76: 27)

Sungguh menyesalan itu adalah bagian dari jejak rekam yang terkadang membuat sebagian anak adam membalikkan rotasi kehidupannya.

Lihatlah sosok Sang Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallohu anhu, berawal dari sisi kehidupan yang kelam mencekam dan diperjalanan hidupnya mendapatkan hidayah yang menjadikan Beliau sosok yang dihormati.

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu..." (Qur'an, 35:5)
by:dendy

Mendongeng membangun karakter anak

Pernahkah Anda melihat mata anak Anda membulat penasaran mendengar cerita Anda? Jika pernah, atau bahkan sering, berarti Anda giat memperkokoh karakternya. Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk mulai mendongeng.

Ketika televisi belum banyak dimiliki orang, hiburan anak-anak kala itu –selain bermain, tentunya—adalah mendengarkan cerita dari para orang tua di sekitar mereka, entah ayah, ibu, kakek, nenek, atau yang lainnya. Dalam suasana hangat, anak-anak dengan penuh minat dan rasa ingin tahu mendengarkan berbagai cerita yang dibawakan orang-orang tua mereka.
Suasana seperti itu kini jarang sekali kita lihat. Cerita dan dongeng yang disampaikan orangtua berganti dengan tayangan film-film di televisi. Anak-anak terpaku di depan layar televisi, sementara orangtua mengerjakan kegiatan lainnya.

Islam, kaya kisah teladan
Arti ‘dongeng’ sendiri adalah cerita fiktif atau rekaan belaka. Ditambahkan Eka Wardhana, penulis buku anak, bahwa dalam dongeng ada unsur keindahan, kehangatan, juga imajinasi. “Jadi kalau cerita fiktifnya itu seram, horor, penuh kekerasan, menurut saya itu bukan dongeng,” jelas Eka. Dalam dongeng semua makhluk khayalan bisa tercipta, seperti pohon dan binatang yang bisa bicara.
Sementara, untuk sejarah yang berisi cerita kepahlawanan dan teladan kebaikan bisa masuk dalam kategori kisah. Namun, menurutnya pengistilahan ini tidak terlalu penting. Baginya yang terpenting adalah kegiatan bercerita itu sendiri, yaitu bagaimana nilai-nilai kebaikan disampaikan kepada anak melalui cara bercerita yang menarik.
Soal keefektifan cerita dalam membentuk karakter anak tak diragukan lagi --bahkan mampu membangun karakter bangsa—kata Eka,. Berdasarkan sebuah sumber, Eka menyebut betapa lebih majunya Inggris dibanding Spanyol pada masa kolonialisme akibat dongeng dan kisah-kisah kepahlawanan yang sering diceritakan orangtua pada anak-anaknya. Tak heran negara jajahan Inggris di berbagai belahan dunia, dari Asia sampai Afrika, lebih banyak daripada Spanyol.
Bila saja kebiasaan bercerita ini dilakukan masyarakat Muslim dengan tak lupa mengambil kisah-kisah kepahlawanan Rasulullah saw dan para sahabatnya, sangat mungkin masa kejayaan Islam akan cepat kembali.
Betapa lengkap teladan kebaikan yang ada dalam kisah Rasul dan para sahabatnya. “Berbagai karakter ada di situ. Ada kisah tentang jiwa ksatria, jiwa pengusaha. Banyak contohnya dan itu nyata, bukan dongeng! Sementara kalau cerita dari orang Barat itu kan kebanyakan dongeng,” kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung ini. Apalagi bila masyarakat Muslim lebih memperkaya jenis dongeng dengan tetap berpijak kepada ajaran Islam, maka semakin banyak alternatif cerita yang bisa dikembangkan dan diceritakan kepada anak-anak kita.
Dalam Al-Quran kisah-kisah teladan pun bertebaran. Bahkan sebagian besar isi Al-Quran berupa kisah. Kisah kepahlawanan dan kisah penuh motivasi lainnya, tak kurang-kurangnya diurai dalam Al-Quran, Hadits dan sumber lainnya. Namun, herannya entah kenapa generasi Muslim tetap saja melempem. “Mungkin karena orang Islam telah mengabaikan kisah-kisah ini,” imbuh Direktur Studio Rumah Pensil ini prihatin. Tak banyak orangtua yang menceritakan kisah-kisah itu pada anak-anaknya. Yang masuk ke rumah-rumah keluarga Muslim bukan lagi kisah teladan dalam Islam, tapi kisah-kisah rekaan yang tak jelas, semacam Naruto dan sebagainya.
Mengapa mendongeng kurang diminati? Mungkin sebagaimana pola pendidikan lainnya, ia tidak menunjukkan hasil yang instan. Padahal dongeng atau cerita-cerita teladan banyak masuk ke alam bawah sadar, di mana alam bawah sadar inilah yang kemudian paling berperan membentuk karakter atau akhlak seorang anak. “Jadi kalau dongeng itu diceritakan terus menerus, maka yang masuk ke alam bawah sadarnya semakin banyak. Nah, kalau ceritanya yang baik-baik, maka yang masuk ke alam bawah sadarnya tentu yang baik-baik pula. Kalau yang diceritakan orangtua kisah-kisah kepahlawanan, kebaikan, persahabatan, maka akan seperti itulah sifat anak nantinya,” jelas Eka.
Bayangkan saja kalau yang masuk ke alam bawah sadar anak justru cerita dan materi yang penuh kekerasan dan vulgar, maka akhlak atau karakter anak seperti apa yang akan tercipta kemudian?

Menjalin kedekatan antara orangtua dan anak
Saat mendongeng atau bercerita selain terjadi transfer nilai, terjalin juga kedekatan antara orangtua dan anak. Ketika mendengar dongeng atau cerita lainnya dari orangtua, anak-anak akan semakin merasa dekat dan terikat dengan orangtuanya. “Saat mendengarkan dongeng, anak-anak akan terikat dengan tokoh dalam cerita dan orang yang bercerita (dalam hal ini orangtua–red). Ikatan emosionalnya itu kuat. Kalau dengan televisi, mereka tidak akan terikat sedemikian kuat,” papar ayah 4 anak ini.
Bagi anak, kedekatan ini dapat mengalahkan kegiatan lainnya. Menurut Eka, dengan amat mudah anak-anak akan berpaling dari televisi, game, dan sebagainya demi mendengarkan orangtuanya bercerita. Apalagi bila selama bercerita orangtua juga menyentuh dan memeluk anak, membelai rambutnya, kehangatan dan kasih sayang tentu akan mengalir. Sentuhan ini selain menambah kedekatan juga akan membuat anak bertambah cerdas. “Setiap kali dipeluk, anak akan merasa bahagia. Nah, perasaan bahagia ini akan membuat anak mudah menyerap informasi dan membuat neuron (sel-sel syaraf dan percabangannya–red) anak bersambung terus menerus. Makanya sering dikatakan kalau anak dipeluk, dia akan bertambah cerdas karena koneksi neuronnya bertambah banyak,” terang pria kelahiran Jakarta, 38 tahun silam ini.
Selama orangtua bercerita, acap kali anak bertanya ini itu. Entah bertanya tentang tokoh, kejadian dalam cerita, dan sebagainya. Ini mengindikasikan telah terjadi komunikasi yang baik antara anak dan orangtua. Bila selama ini hal itu mungkin belum tercipta, dengan mendongeng dan ‘sesi’ tanya jawab di dalamnya akan melancarkan saluran komunikasi yang tersumbat.
Kegiatan mendongeng ini pun bisa mengembangkan imajinasi anak. Eka mencontohkan, ketika orangtua memulai cerita dengan kalimat, “Dulu, ada seorang raksasa…,” maka segera saja daya imajinasi anak bekerja dan membayangkan sosok raksasa tersebut. Selama orangtua bercerita, imajinasi anak terus berlarian mengikuti jalan cerita. Pengembangan daya imajinasi ini penting sebagai dasar mengembangkan kreativitas anak, dan ini bisa didapat dari kegiatan mendongeng.
Eka lalu menuturkan bahwa kegiatan mendongeng pun akan mendorong anak untuk gemar membaca. “Anak yang sering didongengkan waktu kecil, hampir pasti akan senang membaca,” katanya. Setelah mendengar dongeng, anak-anak akan punya keinginan untuk membaca sendiri kisah tersebut dari buku-buku. Sekali dia merasakan keasyikan membaca, mereka akan terus senang membaca.
Kegemaran membaca ini tentu saja penting untuk membuka dan mengembangkan ilmu dan wawasan anak-anak pada berbagai hal. “Tidak ada orang besar di dunia ini yang tidak senang membaca,” imbuh Eka seraya menambahkan ‘membaca’ di sini tak terbatas pada membaca buku, tapi juga ‘membaca’ alam dan lingkungan sekitar.

Sebentar, tetapi sering
Banyak orangtua dan guru yang tidak membiasakan mendongeng karena merasa tak bisa bercerita, apalagi bila mereka harus bercerita dengan gaya yang menarik. Untuk mengatasi kendala ini, Eka menyarankan agar, pertama, orangtua harus mulai ‘belajar’ bicara kepada anak dengan lebih hangat. “Berikan lebih banyak pujian ketimbang kritikan. Kalau anak diperlakukan dengan hangat, dia akan menjadi orang yang hangat. Sementara kalau anak diperlakukan dengan keras, mereka akan jadi keras,” kata Eka. Bicara dengan kehangatan ini akan membuat kedekatan dan keakraban hingga kemudian dalam kondisi itu orangtua akan mudah menceritakan apa saja pada anak, termasuk mendongeng. Anak-anak pun akan terbuka kepada orangtuanya.
Kedua, agar orangtua bisa bercerita tentu saja orangtua harus banyak membaca buku. Apalagi biasanya buku cerita anak-anak itu tidak terlalu tebal, jadi tidak menghabiskan waktu orangtua untuk membaca dan menceritakannya kembali kepada anak-anak. Untuk memulai, orangtua memang bisa mengambil cerita dari buku, selanjutnya apa saja yang terjadi di sekitar kita bisa menjadi cerita. Semua kejadian bisa diceritakan secara menarik, terutama bila orangtua telah terbiasa bercerita.
Sekali bercerita, tak perlu terlalu lama. Sekitar 15 menit sampai 20 menit, cukuplah, karena untuk usia tertentu, misalnya usia balita, perhatian anak-anak cepat teralihkan kepada hal lainnya. Tapi untuk usia yang lebih besar, bisa jadi waktu bercerita bisa sampai 1 jam atau lebih, apalagi bila ceritanya menarik.
Menurut Eka, yang terpenting bukanlah lamanya waktu bercerita. “Yang penting adalah kualitas dan kuantitasnya. Walau cuma beberapa menit, tapi dilakukan setiap hari, akan lebih efektif dibanding satu atau dua jam tetapi dilakukan hanya sekali sebulan,” urai Eka.
Saat yang tepat untuk bercerita pun tak mesti menjelang tidur sebagaimana yang selama ini kita pahami sebagai waktu mendongeng. “Kalau anak mau tidur malam biasanya banyak sekali hambatannya, entah sudah sangat mengantuk, ada PR yang belum selesai, orangtua yang capek karena baru pulang dan sebagainya,” kata Eka. Maka untuk mendongeng, tak perlu menunggu waktu tidur. Bercerita atau mendongenglah kapan pun selagi sempat.
Jadi, melihat berbagai keutamaan mendongeng bagi perkembangan anak, semestinya orangtua dan guru mulai membiasakan diri untuk mendongeng kapan saja. Jangan mau dikalahkan televisi atau bermacam bentuk game, karena pada dasarnya anak lebih suka berdekatan dan mendengarkan cerita dari orangtuanya sendiri.
Edisi : No.8 Tahun XXI |
(Asmawati/wawancara Didi Muardi)

Sabtu, 15 Mei 2010

10 Bersaudara Bintang Al Qur'an


Judul Buku : 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an
Penulis : Izzatul Jannah - Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma Publishing, Bandung
Cetakan Ke : 2
Tahun Terbit : Januari 2010
Tebal Buku : xiv + 150 halaman

Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak-anak yang hafal Al-Qur'an
dan berprestasi. Apalagi para kader dakwah yang sangat menyadari bahwa
keluarga merupakan sasaran dakwah yang kedua; ishlahul
usrah, setelah ishlahul fardi. Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini
merupakan sebuah karya yang -seperti kata Ustadz Yusuf Mansur- akan
menginspirasi banyak keluarga di tanah air. Ternyata membesarkan anak di
masa sekarang untuk menjadi hafiz Al-Qur'an bukan sesuatu yang mustahil.

Buku ini adalah kisah nyata sebuah keluarga muslim di Indonesia. Keluarga
dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai
anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Keluarga luar biasa
itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Uladan Wirianingsih beserta 10
putra-putri mereka. Yang lebih
luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan
berbagai aktifitas dakwahnya. Mutammimul Ula adalahanggota DPR RI dari
fraksi PKS. Sedangkan Wirianingsih adalah Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS
sekaligus Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan Ketua Umum PP
Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 propinsi
dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu adalah :

1. Afzalurahman Assalam
2. Faris Jihady Hanifa
3. Maryam Qonitat
4. Scientia Afifah Taibah
5. Ahmad Rasikh 'Ilmi
6. Ismail Ghulam Halim
7. Yusuf Zaim Hakim
8.
Muhammad Syaihul Basyir
9. Hadi Sabila Rosyad
10. Himmaty Muyassarah

Afzalurahman Assalam
Putra pertama. Hafal Al-Qur'an pada usia 13 tahun. Saat buku ini ditulis
usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra
Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih
sebagai pesertaPertamina Youth Programme 2007.

Faris Jihady Hanifa
Putra kedua. Hafal Al-Qur'an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat
buku ini ditulis usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat
LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur'an yang diselenggarakan oleh
kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang
diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI
Jakarta.

Maryam Qonitat
Putri ketiga. Hafal Al-Qur'an sejak usia 16 tahun. Saat buku ini ditulis
usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas
Al-Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul
Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad
Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.

Scientia Afifah Taibah
Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan
dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur'an tingkat SMA
se-Jakarta Selatan.

Ahmad Rasikh 'Ilmi
Putra kelima. Saat buku ini ditulis hafal 15 juz Al-Qur'an, dan duduk di MA
Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I
Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul
Khatimah.

Ismail Ghulam Halim
Putra keenam. Saat buku ini ditulis hafal 13 juz Al-Qur'an, dan duduk di
SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato
bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri
favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT
Al-Kahfi.

Yusuf Zaim Hakim
Putra ketujuh. Saat buku ini ditulis ia hafal 9 juz Al-Qur'an dan duduk di
SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT,
peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor,
dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

Muhammad Syaihul
Basyir
Putra kedelapan. Saat buku ini ia duduk di MTs Darul Qur'an, Bogor. Yang
sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur'an 30 juz pada saat kelas 6
SD.

Hadi Sabila Rosyad
Putra kesembilan. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah,
Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an. Diantara prestasinya
dalah juara I lomba membaca puisi.

Himmaty Muyassarah
Putri kesepuluh. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah,
Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an.

Dilengkapi Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai
Akhir Zaman dan Fadhilah Menghafal Al-Qur'an
Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini tidak hanya berisi bagaimana
putra-putri Mutammimul Ula dan Wirianingsih menjadi penghafal
Al-Qur'an. Di bagian pendahuluan terlebih dahulu dibahas Fakta Kemahaagungan
Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai Akhir Zaman. Meliputi pembagian
Al-Qur'an, Al-Qur'an sebagai Mukjizat, Sejarah Turunnya Al-Qur'an Kodifikasi
Al-Qur'an, sampai Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al-Qur'an.

Pada bab 5 juga dibahas mengapa menjadi hafiz Al-Qur'an begitu penting.
Penulis mengklasifikasikann ya menjadi 2 bagian: fadhail dunia dan fadhail
akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifdzul Qur'an merupakan nikmat rabbani,
mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Qur'an
mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), keluarga Allah di
muka bumi. Sedangkan
fadhail akhirat meliputi: Al-Qur'an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya,
meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur'an bersama para malaikat yang
mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orangtuanya
diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.

Apa Kuncinya?
Apa kunci sukses keluarga Mutammimul Ula dan Wirianingsih
mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu? Keseimbangan proses. Walapun
mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang
saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib adalah
jadwal mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Beberapa hal yang mendukung kesuksesan ini adalah upaya mereka menjaga
kondisi ruhiyah dalam keluarga:
1. Tidak ada televisi di dalam rumah
2. Tidak ada gambar syubhat
3. Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan
diganti dengan nasyid
4. Tidak ada perkataan yang fashiyah (kotor)

Hal yang cukup mendasar
yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang
Al-Qur'an adalah visi dan konsep yang jelas, yakni menjadikan putra-putrinya
seluruhnya hafal Al-Qur'an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah
Shubuh dan setelah Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur'an yang tidak
boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita,
Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur'an di dekat mereka, mengajarkannya,
bahkan mendirikan TPQ di rumahnya. Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan
memberikan hadiah. Meskipun kebanyakan di waktu kecil mereka merasa
terpaksan, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur'an
sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang
baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur'an,
mereka diberi hadiah.

Metode Menghafal Al-Qur'an 10 bersaudara bintang Al-Qur'an
Pada bab penutup penulis memaparkan metode yang dipilih keluarga Mutammimul
Ula dalam mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an: pertama, mengajarkan
membaca. Kedua, repetisi (pengulangan) . Ketiga, memilihkan mereka sekolah
yang memiliki program utama menghafal Al-Qur'an. Secara khusus kedua orang
tua juga senantiasa menjaga orientasi hafalan mereka.
Keempat, saat menginjak usia remaja mereka dipahamkan tentang fadhilah
membaca Al-Qur'an. Kelima, kedua orang tua menjadi teladan yang nyaris
sempurna dalam dakwah, pemikiran Islam, orientasi tentang keluarga
Al-Qur'an, dan senantiasa mendoakan mereka sepanjang waktu hidupnya.

Akhirnya, bagi keluarga muslim, terutama keluarga dakwah, kiranya buku 10
bersaudara bintang
Al-Qur'an ini sangat penting untuk menginspirasi berikut menjadi referensi
lahirnya bintang-bintang Al-Qur'an yang baru.

DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU… MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA…

KEMANJAAN Jika kita hanya membaca biografi pahlawan, atau mendengar cerita kepahlawanan dari seseorang yang belum pernah kita lihat, barangkali imajinasi yang tersusun dalam benak kita tentang pahlawan itu akan berbeda dengan kenyataannya. Itu berlaku untuk lukisan fisiknya, juga untuk lukisan emosionalnya. Abu hasan Ali Al-Halani Al-Nadwi, yang tinggal di anak benua India, telah membaca tulisan-tulisan Sayyid Quthub, yang tinggal di Mesir. Tulisan –tulisannya memuat gagasan-gagasan yang kuat, solid, atraktif, berani dan terasa sangat keras. Barangkali bukan merupakan suatu kesalahan apabila dengan tanpa alasan kita membuat korelasi antara tulisan–tulisan itu dengan postur tubuh Sayyid Quthub. Penulisnya, seperti juga tulisannya, pastilah seorang laki-laki bertubuh kekar, tinggi dan besar. Itulah kesan yang terbentuk dalam benak Al Nadwi. Tapi ketika ia berkunjung ke Mesir , ternyata ia menemukan seorang laki-laki dengan perawakan yang kurus, ceking dan jelas tidak kekar. Begitu juga dengan potret emosi seorang pahlawan. Kadang–kadang ketegaran dan keberanian para pahlawan membuat kita berpikir bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai sisi-sisi lain dalam dirinya, yang lebih mirip dengan sisi-sisi kepribadian orang-orang biasa. Misalnya, kebutuhan akan kemanjaan. Umar bin khattab mengajar sesuatu yang lain ketika beliau mengatakan : “jadilah engkau seperti seorang bocah didepan istrimu”. Laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi, besar, putih dan botak itu yang dikenal keras, tegas, berani dan tegar, ternyata senang bersikap manja didepan istrinya. Mungkin bukan cuma Umar. Sebab Rasulullah SAW, ternyata juga melakukan hal yang sama. Adalah Khadijah tempat ia kembali saat kecemasan dan ketakutan melandanya setelah menerima wahyu pertama. Maka kebesaran jiwa Khadijah yang senantiasa beliau kenang dan yang memberikan tempat paling istimewa bagi perempuan itu dalam hatinya, bahkan setelah beliau menikahi seorang Aisyah. Tapi beliau juga sering berbaring dalam pangkuan Aisyah untuk disisiri rambutnya, bahkan ketika beliau sedang i’tikaf dibulan Ramadhan. Itu mengajarkan kita sebuah kaidah, bahwa para pahlawan mukmin sejati telah menggunakan segenap energi jiwanya untuk dapat mengukir legenda kepahlawanannya. Tapi untuk itu mereka membutuhkan suplai energi kembali. Dan untuk sebagiannya, itu berasal dari kelembutan dan kebesaran jiwa sang istri.

Kemanjaan itu, dengan begitu, barangkali memang merupakan cara para pahlawan tersebut memenuhi kebutuhan jiwa mereka akan ketegaran, keberanian, ketegasan dan kerja-kerja emosi lainnya.

Kepahlawanan membutuhkan energi jiwa yang dasyat, maka para pahlwan harus mengetahui dari mana mereka mendapatkan sumber energi itu. Petuah ini agaknya tidak pernah salah : “Dibalik setiap laki-laki agung, selalu berdiri wanita agung” dan mengertilah kita, mengapa sastrawan besar besar Mesir ini, Musthafa Shadiq Al Rafii, mengatakan “kekuatan seorang wanita sesungguhnya tersimpan dibalik kelemahannya” .
KELUARGA PAHLAWAN Perenungan yang mendalam terhadap sejarah akan mempertemukan kita dengan satu kenyataan besar; bahwa sejarah sesungguhnya merupakan industri para pahlawan. Pada skala peradaban, kita menemukan, bahwa setiap bangsa mempunyai giliran merebut piala kepahlawanan. Di dalam komunitas besar sebuah bangsa, kita juga menemukan bahwa suku-suku tertentu saling bergiliran merebut piala kepahlawanan. Dan dalam komunitas suku-suku itu, kita menemukan, bahwa keluarga-keluarga atau klan-klan tertentu saling bergiliran merebut piala kepahlawanan itu. Bangsa Arab, misalnya, pemah merebut piala peradaban. Tapi dari sekian banyak sukusuku bangsa Arab, suku Quraisy adalah salah satu yang pemah merebut piala itu. Dan dari perut suku Quraisy, keluarga Bani Hasyim, darimana Rasulullah SAW berasal, adalah salah satu klan yang pemah merebut piala itu. Pada saat sebuah Marga atau klan melahirkan pahlawan-pahlawan bagi suku atau bangsanya, biasanya dalam keluarga itu berkembang nilai-nilai kepahlawan yang luhur, yang diserap secara natural oleh setiap anggota keluarga begitu ia mulai menghisap udara kehidupan. Kepahlawanan dalam klan para pahlawan biasanya terwariskan melalui faktor genetik, dan juga pewarisan atau sosialisasi nilai-nilai kepahlawanan itu. Apabila seorang pahlawan besar muncul dari sebuah keluarga, biasanya pahlawan itu secara genetis mengumpulkan semua kebaikan yang berserakan pada individu-individu yang ada dalam keluarganya. Khalid Bin Walid, misalnya, muncul dari sebuah klan besar yang bemama Bani Makhzum. Beberapa saudaranya bahkan lebih dulu masuk Islam dan cukup berjasa bagi Islam. Tapi kebaikan-kebaikan yang berserakan pada saudara-saudaranya justru berkumpul dalam dirinya. Maka jadilah ia yang terbesar. Umar Bin Khattab juga berasal dari klan yang sama dengan Khalid Bin Walid. Umar juga mengumpulkan kebaikan-

kebaikan yang berserakan di tengah individu-individu keluarganya. Maka jadilah ia yang terbesar. Tetapi diantara Khalid dan Umar terdapat kesamaan-kesamaan yang menonjol. Keduanya memiliki kesamaan pada bangunan fisik yang tinggi dan besar, serta wajah yang sangat mirip. Lebih dari itu kedua pahlawan mukmin sejati itu juga memiliki bangunan katakter yang sama, yaitu keprajuritan. Mereka berdua sama-sama berkarakter sebagai prajurit militer. Pahlawan-pahlawan musyrikin Quraisy yang berasal dari klan Bani Makhzum juga memiliki kemiripan dengan Umardan Khalid. Misalnya, Abu jahal. Bahkan putera Abu Jahalyang bemama Ikrimah bin Abi Jahal, sempatmemimpin pasukan musyrikin Quraisy dalam beberapa peperangan melawan kaum muslimin, sebelum akhimya memeluk Islam. Kenyataan yang sama seperti ini juga terjadi pada keluarga-keluarga ilmuwan atau ulama, pemimpin politik atau sosial, keluarga pengusaha, dan seterusnya. Keluarga adalah muara tempat calon-calon pahlawan menemukan ruang pertumbuhannya. Walaupun tetap menyisakan perbedaan pada kecenderungannya, Abbas Mahmud AIAqqad, yang menulis biografi kedua pahlawan jenius itu, mengatakan bahwa keprajuritan pada Umar bersifat pembelaan, tapi pada Khalid bersifat agresif. Agaknya ini pula yang menjelaskan, mengapa Khalid lebih tepat memimpin pasukan ekspansi, dan Umar lebih cocok memimpin negara. Pada kedua fungsi itu kecenderungan pada garis karakter keduanya terserap secara penuh, maka mereka masing-masing mencapai puncak. Sumber: milis keadilan4all

Mulia Dengan Semangat dan Cita-Cita Tinggi

by ; Dendy W
Kehidupan Ini sesungguhnya butuh jiwa-jiwa seorang pejuang yang memiliki semangat dan cita-cita, dan terkadang kita kurang memahami ketika kita berada dalam menapaki perjalanan itu sendiri. Kita terlalu bahkan sangat sekali merindukan segala kenikmatan, kelezatan dan kenikmatan tanpa melihat apa yang kita lakukan.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “ Orang pintar disetiap umat sepakat bahwa kenikmatan itu tidak bisa didapat dengan kenikmatan pula. Siapa saja yang mementingkan kesenangan ia akan kehilangan kesenangan. Siapa yang menentang badai dan menghadapi rintangan, ia akan memperoleh kegembiraan dan kenikmatan. Tidak ada kegembiraan sama sekali bagi orang yang tidak punya Hasrat dan Cita-cita. Tidak ada kesenangan sama sekali bagi orang yang tidak punya Kesabaran. Tidak ada kenikmatan sama sekali bagi orang yang tidak pernah mengalami penderitaan. Dan tidak ada kenyamanan sama sekali bagi orang yang tidak pernah mengalami Kesusahan. Bahkan hanya dengan mengalami kesusahan sebentar saja, seseorang dijanjikan akan mendapatkan kesenangan cukup lama.

Hanya dengan tabah menanggung beratnya kesabaran beberapa lama, ia akan mampu mengendalikan hidup ini untuk selamanya.
Orang-orang yang mendapatkan kenikmatan yang kekal adalah karena mereka mau bersabar beberapa lama. Di tangan Allah lah letak pertolongan. Dan tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan NYA.
Semakin mulia jiwa dan semakin tingi cita-cita, maka semakin besar yang harus dirasakan oleh tubuh sehingga jarang sekali menikmati kesenangan, sebagaimana yang dituliskan oleh seorang penyair ;

Apabila Jiwa Besar
Tubuh Akan Merasakan Kepayahan Menuruti Keinginan-keingannya

Semua orang pintar sepakat bahwa kesenangan yang sempuran tergantung pada kadar kesusahan yang dialami, dan kenikmatan yang sempurna itu tergantung pada proses ketabahan dalam menanggung beban yang berat.
Kesenangan, kelezatan dan kenikmatan yang ada didunia ini hanya baru bersifat sementara. Sedangkan kesenangan, kelezatan dan kenikmatan yang sejati dan abadi itu ada di surga nanti.

Wa akhiru da’wana ‘an Al Hamdulillah Rabbil ‘Alamin

Selasa, 11 Mei 2010

Maulid Nabi TIM Cab Klender & Sekitarnya


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan pelantikan pengurus Taman Iskandar Muda (TIM) Cabang Klender dan sekitarnya.
Ahad tanggal 09 mei 2010 bertempat di Meunasah, Kampung Kapitan - Duren Sawit


Senin, 10 Mei 2010

Kebaikan Yang Tidak Pernah Hilang

by : Dendy
Menjadi orang baik merupakan suatu keharusan bagi orang beriman, akan tetapi melakukan kebaikan yang tak pernah hilang merupakan perkara yang sulit bagi kita. Berbagai tipu daya yang dilakukan Syeitan untuk senantiasa menganggu anak adam agar terpengaruh dan enggan melakukan kebaikan yang pada akhirnya menjerumuskan kedalam api neraka.

Mengingatkan kepada kita, orang-orang sesungguhnya dalam kerugian hanya dengan iman, amal dan nasehat-menasehati dalam kebaikan itulah yang beruntung dan selamat.
Allah berfirman ” Kecuali orang-orang yang beriman dan amal shaleh serta saling nasehati dalam kebaikan ” (al ashr )

Rasulullah shallalahu ’alaihi wassalam bersabda ;
“Diantara tanda baik Islamnya seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak manfaat bagi dirinya atau yang bukan menjadi urusannya”.

“Jika salah seorang diantara kalian memperbaiki keislamannya, maka setiap satu kebaikan yang dilakukan, akan dicatat dengan sepuluh kebaikan, bahkan dilipat gandakan hingga tujuh ratus kali. Dan setiap kejelakan yang dilakukan, hanya akan ditulis sesuai dengan kejelekan itu, hingga ia bertemu Allah”. (HR Muslim)
Marilah kita senantiasa menyibukan diri dengan berbagai kebaikan dan bermanfaat. Jangan menyibukan diri mencari-cari keburukan orang lain. Ingat dengan kita memberikan kebaikan kepada siapapun tentunya kebaikan itu akan datang kepada kita sendiri. Semoga Allah memberikan kekuatan dan keikhlasan pada orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan…Amin