Jumat, 30 Juli 2010
Berbuka puasa 2008
Awalnya pembelajaran, ujungnya kesempurnaan
Lelaki buta huruf itu tiba-tiba disuruh membaca. Bukan. Bukan disuruh. Tepatnya dipaksa. Sampai tiga kali. Dan pecahlah peristiwa itu dalam sejarah manusia; lelaki buta huruf itu lantas diangkat menjadi nabi, bahkan penutup mata rantai kenabian hingga akhir zaman.
Begitulah perintah membaca mengawali pengangkatan Muhammad menjadi Nabi. Kelak, setelah menunaikan tugas kenabian itu selama 23 tahun, atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari, Allah SWT menutup perjuangan beliau dengan satu ayat tentang kesempurnaan: ”Hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan pula nikmat-Ku untukmu dan Aku ridho Islam sebagai agamamu.”
Risalah kenabian itu dibuka dengan perintah membaca, dan kelak ditutup dengan pernyataan penyempurnaan dan keridhoan. Awalnya adalah pembacaan. Ujungnya adalah penyempurnaan. Maka berkembanglah agama terakhir ini dari seorang Nabi menjadi seratusan ribu manusia Muslim, dari komunitas kecil para penggembala kambing jazirah Arab yang tandus menjadi sebuah peradaban besar yang memimpin kemanusiaan selama lebih dari seribu tahun.
Kitab kehidupan ini memang begitu seharusnya dipahami: bukalah ia dengan pembacaan yang menyeluruh, niscaya engkau akan mengkhatamkannya dengan kesempurnaan. Jika kita belajar lebih banyak di awal kehidupan, niscaya kita akan mencapai kesempurnaan di penghujung umur, dan menutup mata dengan senyum dalan keridhaan Allah SWT.
Cara kita menjalani hidup selamanya ditentukan oleh cara kita memahami hidup. Seperti apa cara kita memahami hidup, seperti itu pula cara kita menjalaninya. Coba masuk ke dalam hutan belantara tanpa peta. Pasti tersesat. Bahkan mungkin tidak bisa keluar. Begitu juga kehidupan. Membaca adalah peta. Makin menyeluruh dan akurat peta yang kita miliki, makin cepat dan pasti kita sampai ke tujuan.
Diantara pembelajaran dan kesempurnaan, ada satu jembatan emas yang menghubungkannya: pertumbuhan. Pertumbuhan adalah adalah jalan menuju kesempurnaan. Mereka belajar maka mereka tumbuh. Kesempurnaan adalah ujung hidup yang dicapai dari tapak demi tapak kehidupan. Mereka menjadi sempurna karena mereka tidak pernah berhenti menjadi lebih baik. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
Begitulah perintah membaca mengawali pengangkatan Muhammad menjadi Nabi. Kelak, setelah menunaikan tugas kenabian itu selama 23 tahun, atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari, Allah SWT menutup perjuangan beliau dengan satu ayat tentang kesempurnaan: ”Hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan pula nikmat-Ku untukmu dan Aku ridho Islam sebagai agamamu.”
Risalah kenabian itu dibuka dengan perintah membaca, dan kelak ditutup dengan pernyataan penyempurnaan dan keridhoan. Awalnya adalah pembacaan. Ujungnya adalah penyempurnaan. Maka berkembanglah agama terakhir ini dari seorang Nabi menjadi seratusan ribu manusia Muslim, dari komunitas kecil para penggembala kambing jazirah Arab yang tandus menjadi sebuah peradaban besar yang memimpin kemanusiaan selama lebih dari seribu tahun.
Kitab kehidupan ini memang begitu seharusnya dipahami: bukalah ia dengan pembacaan yang menyeluruh, niscaya engkau akan mengkhatamkannya dengan kesempurnaan. Jika kita belajar lebih banyak di awal kehidupan, niscaya kita akan mencapai kesempurnaan di penghujung umur, dan menutup mata dengan senyum dalan keridhaan Allah SWT.
Cara kita menjalani hidup selamanya ditentukan oleh cara kita memahami hidup. Seperti apa cara kita memahami hidup, seperti itu pula cara kita menjalaninya. Coba masuk ke dalam hutan belantara tanpa peta. Pasti tersesat. Bahkan mungkin tidak bisa keluar. Begitu juga kehidupan. Membaca adalah peta. Makin menyeluruh dan akurat peta yang kita miliki, makin cepat dan pasti kita sampai ke tujuan.
Diantara pembelajaran dan kesempurnaan, ada satu jembatan emas yang menghubungkannya: pertumbuhan. Pertumbuhan adalah adalah jalan menuju kesempurnaan. Mereka belajar maka mereka tumbuh. Kesempurnaan adalah ujung hidup yang dicapai dari tapak demi tapak kehidupan. Mereka menjadi sempurna karena mereka tidak pernah berhenti menjadi lebih baik. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
Rabu, 28 Juli 2010
Doa Memohon Keberkahan Keluarga
Dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa Ibnu Abbas mengatakan yang dimaksud dengan keluarga menjadi penenang hati adalah keluarga yang taat kepada Allah. Ikrimah juga mengatakan demikian. Ketika Hasan al- Bashri ditanya tentang doa ini, ia menjawab, 'Yakni ketika seorang Muslim melihat pasangan hidupnya, anak-anak dan karib kerabatnya taat kepada Allah. Demi Allah! Tidak ada yang lebih menenteramkan hati selain melihat pasangan hidup kita, anak-anak kita dan keluarga kita taat kepada Allah.'
Ibnu Abdul Barr dalam kitabnya 'al-Istidzkar mengatakan, Doa ini terkandung pelajaran yang sangat berharga yakni setiap Muslim harus berusaha menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya dalam kebaikan dan ketaqwaan yang terlebih dahulu sebelum menjadi panutan bagi orang lain. Jika ia berhasil menjadi panutan maka ia akan memperoleh pahala yang besar disisi Allah karena amalnya sendiri, amal keluargannya dan amal orang-orang yang mengikutinya.'
posted by :agussyafii
Read more: http://agussyafii.blogspot.com/#ixzz0uyL2QiSJ
Selasa, 27 Juli 2010
Pergunakan kesempatan itu......Istriku
by;dendyBelajarlah bisnis istriku adalah sebuah perkara yang terus didalami, mungkin bakat dari orang tuanya yang seorang perantau dan pedangang.
Kebebasan berekspresi ku berikan seluas-luasnya buat beliau.
Kebebasan yang bertanggung jawab, dan sebagai kawah candradimuka untuk mendapatkan hikmah tersendiri dalam sebuah kesuksesan atau kegagalan. Kini lambat laun semakin matang dan penuh dengan analisa-analisa agar usaha ini terus dimudahkan..
Selamat istriku, semoga keinginanmu tercapai...amin
Kejujuran
by;dendyKejujuran merupakan barang langkah dinegeri ini hal inilah yang tergambar dengan masukannya negara kita dalam daftar negara-negara korupsi, bahkan ditingkat Asia kita peringkat teratas.
Kalo kita bicara kejujuran, tentunya berbicara dengan masalah keimanan. Keimanan inilah yang akan membentuk sesorang menjadi orang jujur sejati.
Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar (orang baik), dan dengannya akan men-dapatkan keselamatan dari api neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),"Yusuf, hai orang yang amat dipercaya." (QS.Yusuf:46)
Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah "ash-shiddiqiyah" Yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah subhanahu wata’ala).
Imam Ibnu Katsir berkata, "Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung. (Tafsir Ibnu Katsir 3/643).
Mudah-mudahan Allah senantiasa menunjuki orang-orang yang ingin merubah dirinya, untuk senantiasa dalam kejujuran, Amin ya Rabbal ‘Alamin…..
Kepemimpinan dari dalam
5 langkah mendasar untuk mengembangkan kepemimpinan dari dalam.
*1. Kenalilah Diri Sendiri*
Plato telah mengatakannya 400 tahun sebelum masehi. Stephen Covey dan
Anthony Robbins mengatakannya hari ini. "Ketahuilah nilai-nilai pribadi
Anda. Dengarlah suara hati." Kepemimpinan lebih dari sekedar mengatur orang
lain. Kepemimpinan dimulai dengan memimpin diri sendiri. Dengan memahami apa
yang terpenting, melakukan hal yang terpenting, dan membangun integritas.
Dengan membangun konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Itu
sebabnya, pemimpin yang paling efektif adalah pemimpin yang memimpin dengan
contoh dan teladan.
*2. Milikilah Visi dan Semangat*
Visi adalah gambaran dari dalam, tentang sesuatu yang belum terjadi. Visi
adalah impian, dengan rencana, dengan deadline, dan dengan tindakan. Mulailah dengan ide. Ide inilah yang merupakan cetak biru, seperti cetak biru untuk bangunan pencakar langit. Inilah yang memandu strategi dan tindakan, yang menjadikannya sebuah kenyataan.Identifikasi ide visi Anda dengan mewaspadai apa yang sering melintas di kepala, dan apa yang hati Anda terus-menerus menyuarakannya. Suara di kepala Anda memanggil, hati Anda memanggil. Itulah panggilan untuk jiwa dan visi Anda. Untuk merealisasi visi, Anda harus punya semangat. Semangat adalah kekuatan yang mengubah ide menjadi kenyataan.
*3. Ambillah Risiko*
Anda mau membeli perusahaan yang penjualannya di seluruh dunia mencapai 700
milyar dollar tahun 1994, tapi hanya 300 milyar dolar di tahun 1995? Michael
Cowpland mau. Ia membeli WordPerfect, dan dengan berani menantang Microsoft
Word. Ia percaya bahwa dengan beberapa perubahan, WordPerfect akan menjadi
pengolah kata nomor satu di dunia.
Ia mungkin kalah dari Microsoft Word, tapi ia telah berani mengambil risiko
untuk kekaisaran softwarenya. Ia adalah contoh manusia yang menikmati
risiko. Tidak selalu berhasil memang. Ia -- seperti pengambil risiko
lainnya, hanya tahu satu hal: mereka memang "harus" melakukannya.
Ray Croc, Walt Disney atau Mary Kay Ash, harus "gagal" tujuh kali sebelum
berhasil. Thomas Alva Edison, harus "gagal" 700 kali sebelum ia memberi kita
bohlam. Tanyalah diri Anda sendiri, berapa kali harus jatuh dan lecet, sebelum bisa
naik sepeda.
Sesungguhnyalah, Anda adalah pengambil risiko yang sejati.
Mengambil risiko adalah bertindak sesuai keyakinan. Mau merubah pikiran dan
perbuatan. Menggeser paradigma, mengambil keputusan, menjaga komitmen,
bicara nyeplos, dan berbagi kekuatan dengan orang lain.
*4. Berkomunikasilah*
Ini yang sedang kita pelajari dan dalami. Tahukah Anda, sebelum Windows 95
di rilis, tuan Gates telah menyewa seorang konsultan bicara? Tuan Gates
belajar keras untuk berkomunikasi, mengkomunikasikan Windows-nya. Dan
tahukah Anda? Anda sedang menggunakannya detik ini!
Ingatlah bahwa semua organisasi dan perusahaan adalah sama. Setiap orang di
dalamnya, harus bisa mewakili organisasi atau perusahaan, kapan pun ia
terlibat dalam komunikasi. Setiap orang di dalam organisasi dan perusahaan,
adalah salesman. Belum lagi: meeting, rapat, telepon, surat, email, web, sms
dan seterusnya. Berkomunikasilah.
*5. Ceklah Selalu Progres dan Hasil*
Monitorlah segala sesuatu. Lihatlah bagaimana orang meluncurkan roket.
Lihatlah bagaimana ruang UGD. Lihatlah apa yang terjadi di BMG. Lihatlah
meeting setiap pagi di kantor Anda. Monitorlah segala sesuatu. Jagalah agar
tetap di jalur.
(*diringkas dari Trainer E.D.A.N-Ikhwan S.)
* "Powerful leadership comes from knowing what matters to you. Powerful presentations come from expressing this effectively. " *
*Peter Urs Bender - Speaker and Leader*
Senin, 26 Juli 2010
Pijakan itu senantiasa ada
Perjalanan panjang hampir memasuki usia ke14 tahun. Perjalanan yang penuh dengan segala suka dan duka, namun semua itu menyisihkan begitu banyak hikmah untuk kami.
Kekuatan pijakan yang terus kami tapakkan ini tak lepas dari pengalaman yang telah kami jalani bersama-sama.
Tentunya pijakan ini akan semakin kita sadari menjadi penting apabila, sebuah kita sadar bahwa semua manusia atau pasangan kita tak lepas dari kekurangan dan kelebihan.
Share untuk pasangan pasutri yang baru memulai episode kehidupannya, ada beberapa pijakan yang mesti kita sadari ;
1. Pijakan Awal ( niat ), biasanya ketika memasuki gerbang berumahtangga pijakan awal ini sangat penting dampaknya kedepan dalam mengarungi samudra kehidupan berumah tangga.
Pijakan awal berupa niat yang baik ternyata bisa meleraikan persoalan-persoalan, permasalahan yang suatu saat menimpa kita.
2. Pijakan Pelaksanaan ( kebersamaan ), ketika awal-awal pernikahan senantiasa selalu dihinggapi kebahagian, yah karena kita masih merasakan indahnya bertemu dengan kekasih kita, perlu diingat bahwa pijakan awal ini akan semakin mantap manakalah pasutri sama-sama merencanakan segala sesuatunya dengan azas kebersamaan.
Kebersamaan inilah sesuatu yang sangat penting dibangun, dengan kebersamaan dalam segala hal sesungguhnya bisa membangun suatu nuansa yang indah walaupun tinggal dirumah kontrakan yang kecil.
3.Pijakan Akhir ( berharap berkumpul di surga bersama ), manakalah pasutri memaksimalkan kehidupannya mencari ridho Allah dan berharap berkumpul disurga maka inilah sebenarnya kekuatan lain sehingga kehidupan berkeluarga tetap langgeng.
Saling menasehati, saling mengingatkan dan saling mencintai...
semoga bermanfaat
Sabtu, 24 Juli 2010
Pernikahan-pernikahan keluarga
Langganan:
Postingan (Atom)

